Sholat Rawatib | Dasar Hukum, Waktu, dan Tata Cara Pelaksanaan

Sholat Rawatib – Sholat rawatib merupakan sholat sunnah yang merujuk pada sholat yang dikerjakan sebelum maupun setelah sholat fardhu (wajib).

Selama ini mungkin kita hanya mengenalnya dengan sholat sunnah subuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya’. Sebenarnya semua sholat sunnah yang mendampingi sholat fardhu disebut dengan sholat rawatib.


Sholat Rawatib


Rawatib yang dilakukan sebelum sholat fardu disebut sholat sunah qabliyah sedangkan yang dilakukan sesudah sholat fardhu disebut shalat sunnah ba’diyah. Dalam sholat sunah rawatib dibagi menjadi dua golongan.

Pertama golongan sunah muakad dan kedua sunnah ghairu muakad. Apabila mengerjakan sholat sunnah muakad lebih besar kemuliaannya dan dijanjikan ganjaran pahala yang besar bila menunaikannya.

Sunnah rawatib juga termasuk dalam shalat sunnah muthlaqah, dimana waktu mengerjakannya terbatas pada waktu-waktu tertentu.

Didalam sholat rawatib ada sholat yang yang dikatakan sebagai sunnah muakkad (yang ditekankan) dan sunnah ghairu muakkad (tidak ditekankan).

Jadi saat mengerjakan sholat rawatib tidak perlu mengusahakan untuk shlat sunnah qabliyah dan ba’diyah. Cukup kerjakan semampunya sesuai yang ditekankan berhubung ini bukanlah sholat wajib.

Dalil Syariat Muakkad

Dikategori sunnah muakkadah atau yang ditekankan terdiri dari sepuluh rakaat. Dimana pembagiannya terdapat dalam hadits:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ حَفِظْتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ كَانَ يُصَلِّيهَا بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ قَالَ وَحَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الْفَجْرِ رَكْعَتَيْنِ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku ingat sepuluh rakaat dari Nabi shollallahu alaihi wasalam, yaitu: Dua rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat sesudahnya. Dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah isya’, dan dua rakaat sebelum sholat subuh. Pada saat itulah Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak mau ditemui.

Hafshah radhiyallahu ‘anha menceritakan padaku bahwa jika muadzin mengumandangkan adzan dan fajar (yang kedua) telah terbit, beliau shalat dua rakaat.” [HR. Bukhari dan At Tirmidzi]

Hadits lain dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum sholat zuhur dan dua rakaat sebelum shalat subuh.” [HR. An Nasai, Bukhari, dan Abu Dawud]

Dalil Syariat Ghairu Muakkad

Sedangkan yang termasuk sholat rawatib ghairu muakkad, diantaranya dua rakaat sebelum ashar, magrib, dan isya’. Telah dijelaskan dalam hadits dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu, Nabi Shlallallahu alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، ثُمَّ قَـالَ فِي الثَّالِثَةِ: لِمَنْ شَاءَ.

“Diantara dua adzan (maksudnya antara adzan dan iqamat) ada shalat, diantara dua adzan ada sholat.” Kemudian beliau berkata pada kali yang ketiga, “Bagi siapa yang menghendakinya.” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah]

Disunnahkan juga untuk menjaga atau mengerjakan empat rakaat sebelum solat ashar seperti dalam hadits dari Ali ra. Ia berkata, “Dahulu Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa mengerjakan sholat empat rakaat sebelum salat ashar. Beliau memisahkan antara rakaat-rakaat tadi dengan mengucapkan salam pada para malaikat muqarrabiin (yang dekat dengan Allah) dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Muslimin dan Mukminin.” [Riwayat Tirmidzi]

Riwayat lain dari Ibnu Umar ra dari Nabi SAW bersabda:

رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا.

“Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum ashar.” [Riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud]

Bacaan dalam Shalat Rawatib

Ada juga hadits yang berisi tentang bacaan Quran yang paling sering Nabi Muhammad SAW baca ketika sholat rawatib. Terutama pada saat shalat fajar atau sholat sunnah rawatib sebelum subuh (qabliyah). Berikut haditsnya:

Aisyah radhiyallahu anhuma mengatakan bahwasannya Rasulullah shallalahu alaihi wasallam pernah bersabda,

نِعْمَتِ السُّوْرَتَانِ يُقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ، قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، وَقُلْ يَآ أَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ.

“Dua surat yang paling baik dibaca pada dua rakaat sebelum subuh adalah qul huwallahu ahad (al Ikhlas) dan qul yaa ayyuhal kaafiruun (al Kafiruun).” [HR Ibnu Majah dan Imam Ahmad]

Hal serupa juga diungkapkan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata. “Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam membaca qul yaa ayyuhal kaafiruun dan qul huwallaahu ahad pada dua rakaat sebelum subuh.” [diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, an Nasa’i , dan Ibnu Majah]

Begitu juga dengan Ibnu Mas’ud ra, ia berkata “Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam membaca qul yaa ayyuhal kaafiruun dan qul huwallaahu ahad pada dua rakaat sesudah maghrib dan dua rakaat sebelum salat subuh.” [at Tirmidzi]

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي الْأُولَى مِنْهُمَا الْآيَةَ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ { قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ وَفِي الْأُخْرَى { آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ }

Ibnu Abbas ra ia berkata, “Pada dua rakaat solat sunnah fajar, Rasulullah SAW pernah membaca : quuluu aamannaa billaahi wa maa unzila ilainaa. Artinya Katakanlah (Hai orang-orang mukmin), kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami (surat Al Baqarah ayat 136) di rakaat pertama. Dan pada rakaat terakhir: aamannaa billaahi wasyhad bii annaa muslimuun. Artinya: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patut pada seruanmu (al Maidah ayat 111).” [an Nasa’i, Imam Muslim, dan Abu Dawud]

Rakaat

Dari serangkaian hadit diatas yang berkaitan dengan sholat rawatib dapat disimpulkan bahwa jumlah rakaat salat rawatib berbeda-beda.

Tergantung solat wajib apa yang dia iringi dan kapan (sebelum atau qabliyah/ sesudah atau ba’diyah) dilaksanakannya.

Berikut ini sedikit kesimpulan yang bisa diambil.

Sholat Rawatib Sunnah Muakkad

  • Subuh: diutamakan mengerjakan dua rakaat sebelumnya atau qabliyah
  • Dzuhur: diutamakan mengerjakan 4 rakaat sebelumnya (qabliyah) dan 2 rakaat sesudahnya (ba’diyah)
  • Ashar: tidak termasuk kategori sunnah muakkad
  • Maghrib: diutamakan mengerjakan 2 rakaat setelahnya atau ba’diyah.
  • Isya: diutamakan mengerjakan 2 rakaat setelahnya atau ba’diyah.

Sholat Rawatib Sunnah Ghairu Muakkad

  • Subuh: tidak termasuk kategori sunnah ghairu muakkad
  • Dzuhur: 2 rakaat setelah wajib atau ba’diyah
  • Ashar: 2 atau 4 rakaat sebelum wajib (qabliyah)
  • Maghrib: 2 rakaat sebelum wajib (qabliyah)
  • Isya: 2 rakaat sebelum wajib (qabliyah)

Itulah sedikit penjelasan mengenai pelaksanaan shalat sunnah rawatib. Perihal tata cara mengerjakannya sama seperti shalat shalat yang lain termasuk shalat wajib.

Keutamaan mengerjakan sholat rawatib juga banyak, diantaranya mendapat ganjaran surga, mendapat rumah di surga, lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasalam, dan diharamkan dagingnya dari api neraka.

Untuk itu alangkah baiknya jika kita mengiringi ibadah sholat wajib dengan solat sunah rawatib. Semoga penjelasan inibermanfaat dan memotivasi untuk lebih taat kepada Allah ta’alaa.

Keyword: Sholat Rawatib

1 thought on “Sholat Rawatib | Dasar Hukum, Waktu, dan Tata Cara Pelaksanaan”

Leave a Comment