sejarah batu quran

Sejarah Batu Quran yang Ada Di Ujung Barat Pulau Jawa

Sejarah batu Quran memiliiki berbagai versi di kalangan masyarakat sekitar. Batu Quran merupakan sebuah misteri yang menyimpan seribu cerita. Lalu sebenarnya apa batu Quran itu? Mungkin sebagian dari kalian masih asing dan bertanya-tanya tentang batu Quran.

Sejarah Batu Quran

Batu quran merupakan sebuah tempat wisata religi yang ada di daerah Banten. Wisata religi Batu Quran terdapat di dua tempat, yakni di Sanghyang Sirah, Taman Nasional Ujung Kulon dan di Cibulakan – Cikoromoy, Pandeglang, Banten. Meski keduanya berada di Banten, tapi kedua tempat tersebut memiliki jarak yang cukup jauh.

Kedua tempat wisata religi tersebut juga memiliki perbedaaan dengan latar belakang sejarah yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa batu Quran yang berada di Cikoromoy merupakan replika dari yang berada di Sanghyang Sirah. Bentuk kedua tempat wisata tersebut juga berbeda. Satu merupakan sebuah kolam terbuka dan satunya lagi berada di dalam gua.

1. Sejarah Versi Pertama (Syah Maulana Mansyur)

Pada sejarah batu quran versi pertama kemunculan batu tersebut berkaitan erat dengan Syekh Maulana Mansyur. Kala itu Maulana Mansyur hendak berangkat haji ke Makkah dan langkahnya diawali dari lokasi batu quran. Dengan membaca basmalah saja Syekh Maulana Mansur tiba di Makkah tanpa perjalanan darat maupun laut.

Saat pulang pun beliau muncul dari lokasi tersebut bersamaan dengan itu air muncul dari batu tersebut tiada hentinya. Melihat kucuran airnya yang tidak mau berhenti sang syekh pun bermunajat kepada Allah. ia melakukan sholat dua rakaat di dekat kucuran air. Setelah sholat ia mendapat petunjuk untuk menutup kucuran airnya dengan dengan Al Quran.

Setelah ditutup dengan Quran kucuran airnya pun berhenti dan Al Quran tadi berubah menjadi batu. Dari situlah asal mula batu quran yang airnya belum pernah kering.

2. Sejarah Batu Quran Versi Kedua (Syekh Mansyuruddin)

Ada seorang ulama auliyaillah yang bernama Syekh Mansyuruddin. Beliau merupakan ulama salah satu penyebar ajaran Agama Islam di Banten dan terkenal sakti. Dinasabkan bahwa beliau adalah keturunan dari Sultan Agung Tirtayasa. Syekh Mansyuruddin dikenal sebagai ulama yang mampu berkomunikasi dengan jin dan bisa menaklukkan harimau.

Cerita sejarah yang kedua ini juga hampir sama. Berawal dari kepulangan sang syekh ke nusantara dari Makkah. Saat berada di Makkah beliau masuk ke dalam sumur zam-zam dan muncul di tanah air tepatnya di daerah Cibulakan yang sekarang menjadi lokasi batu Quran.

Ketika beliau keluar air zam-zam tempat ia masuk ikut keluar bersamanya dan tak henti-hentinya mengucur.
Akhirnya ditutuplah kucuran tersebut menggunakan Al Quran yang kemudian berubah menjadi sebuah batu. Atas ijin Allah kucuran airnya pun berhenti. Kemudia Syekh mengukir tulisan Al Quran menggunakan jari telunjuknya.

3. Versi Ketiga (Prabu Kian Santang dan Sayyidina Ali)

Versi yang satu ini memiliki kesamaan cerita antara asal mula Batu Quran yang ada di Sanghyang Sirah dengan yang ada di Cibulakan. Prabu Kian Santang bersama Prabu Munding Wangi pernah belajar ke tanah Arab pada Sayyidina Ali. Sepulangnya ke tanah pasundan mereka merasa kalau hukum pelaksanaan khitan di nusantara belumlah benar.

Sang Prabu mengirim utusannya ke tanah Arab untuk belajar langsung dari Sayyidina Ali. Akhirnya Sayyidina Ali memutuskan untuk mengajarkan langsung dan pergi ke tanah Pasundan. Sesampainya di tanah Pasundan Sayyidina Ali tidak berhasil bertemu dengan Prabu Kian Santang karena beliau sedang mengunjungi Prabu Munding.

Leave a Reply