Pengertian Puasa, Sejarah Disyariatkannya, serta Manfaatnya

Pengertian puasa adalah suatu pebuatan menahan lapar, haus, serta hawa nafsu lainnya dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa di dalam Islam merupakan sebuah ibadah yang bernilai pahala, baik itu puasa wajib maupun sunnah.


Pengertian Puasa


Puasa atau yang dalah Bahasa Arabnya shaum merupakan suatu tindakan sukarela dengan berpantang dari makanan atau minuman maupun keduanya. Juga dari perbuatan buruk dan segala sesuatu yang membatalkan puasa untuk periode waktu tertentu.

Biasanya periode puasa dilakukan selama 12 jam hingga 24 jam bahkan ada yang berhari-hari. Ada puasa yang hanya membatasi sebagian hal, misalnya makan saja atau minum saja, atau makanan dan minuman tertentu. Praktik puasa juga biasa menghalangi aktivitas seksual dan lainnya.

Praktik puasa biasa dilakukan dalam rangka menunaikan ibadah dan juga dilakukan diluar kewajiban ibadah guna meningkatkan kualitas spiritual orang yang menjalankannya. Hal demikian biasanya dilakukan oleh seorang pertapa.

Di dalam Islam puasa atau shaum yang sifatnya wajib dilakukan pada bulan Ramadhan. Ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan termasuk dalam rukun Islam yang ke tiga. Ibadah puasa Ramadhan dilakukan selama satu bulan penuh.

Pengertian puasa dalam Islam didefinisikan sebagai kegiatan menahan diri dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Melakukan puasa haruslah diniatkan ikhlas karena Allah semata.

Sejarah Puasa

Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan ibadah puasa atas banyak umat sebelum Islam. Termasuk ibadah ruhiyyah, puasa sendiri telah dikenal oleh orang-orang jaman dahulu dari bangsa Mesir dan India juga Yunani dan Romawi.

Bisa dikatakan sejarah puasa sudah sangat tua karena sudah ada sejak dulu kala. Ada yang mengatakan bahwa orang-orang paganis (penyembah berhala) dari bangsa India masih melestarikan tradisi puasa hingga saat ini.

Hanya saja puasa yang mereka lakukan tentu berbeda dengan puasanya orang Islam. Niat puasanya saja bukan karena Allah melainkan untuk menenangkan dan mencari keberuntungan dari sesembahan mereka.

Paganis India berpuasa saat mereka meresa telah melakukan hal yang mengundang murka sesembahan mereka. Bagitu juga dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang juga masih melestarikan puasa hingga saat ini.

Memang sudah jelas bila kaum Yahudi dan Nasrani berpuasa karena Nabi Musa alaihis salam dan Nabi Isa alaihis salam pun berpuasa. Bahkan juga para Hawariyyu atau pengikut setia Nabi Isa alaihis salam juga berpuasa.

Disyariatkannya ibadah puasa kepada semua umat menunjukkan bahwa ibadah ini merupakan ibadah yang paling utama dalam mensucikan rohani, membersihkan jiwa, serta menguatkan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Dikarenakan saat berpuasa ia akan selalu dalam keadaan ingat kepada Allah.

Diwajibkannya Puasa atas Umat Islam

Diwajibkannya puasa bagi umat Islam sudah ditegaskan Allah didalam al Qur’an surah Al Baqarah ayat 183 yang bunyinya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

yaa ayyuhaa ladziina aamanuu kutiba ‘alaykumu shshiyaamu kamaa kutiba ‘alaa ladziina min qablikum la’allakum tattaquun

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Sejarah disyariatkannya berpuasa bagi Umat Islam tak lain karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam sering berpuasa. Beliau berpuasa hari Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan.

Meskipun begitu puasa Asyura tidak diwajibkan atas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan kaum mukminin. Itu hanyalah sekedar puasa sunnah semata yang merupakan inisiatif beliau sebelum diperintahkannya puasa Ramadhan.

Pada awal diturunkannya perintah berpuasa Allah memberi pilihan antara berpuasa atau memberi fidyah. Kemudian ketikan keyakinan kaum muslimin sudah kuat dan jiwa telah tenang ketika terbiasa berpuasa, maka diwajibkan atas mereka untuk berpuasa saja. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalan QS. Al Baqarah: 184 – 185.

Adapun orang yang tidak mampu berpuasa entah itu karena tua renta, sakit keras, dan uzur lainnya, maka ayat tersebut diringankan atas mereka. Mereka bisa berbuka dan memberi makan untuk setiap harinya seorang miskin. Tidak ada qadha atas mereka.

Selain mereka semua orang diwajibkan berpuasa. Bila ia sedang dalam masa sakit, safar, atau haid, maka wajib untuknya mengqadha puasa. Orang yang dengan sengaja tidak berpuasa wajib berarti ia kafir dan orang yang berbukan tanpa udzur, maka termasuk dosa besar.

Adab-adab Berpuasa

Terdapat adab-adab dalam berpuasa dimana ia tidak sempurna kecuali dikerjakan dan tidak lengkap kecuali dengan menjalankannya. Adab-adab ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang sifatnya wajib dan sifatnya sunnah.

Adab yang wajib harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang berpuasa dan yang bersifat sunnah juga tetap harus dijaga dan dipelihara. Penjelasan lebih rinci mengenai keduanya bisa dilihat dibawah ini:

Yang Sifatnya Wajib

1. Orang yang berpuasa harus menghindari dusta. Berdusta merupakan perbuatan dosa yang ddiharamkan apalagi bagi orang yang sedang berpuasa. Oleh karena itu sering kali kita mendengar nasihat jangan berbohong ketika sedang berpuasa.

2. Hendaklah orang yang sedang berpuasa menjauhi ghibah. Hal ini juga yang mendasari alasan mengapa tidurnya orang puasa itu ibadah. Daripada mengghibah tentu tidur akan seratus kali lebih baik.

3. Hendaknya orang yang sedang berpuasa juga menghindari adu domba atau namimah. Tindakan seseorang menyampaikan sesuatu kepada orang lainnya dengan tujuan untuk merusak hubungan keduanya tentu tidak dibenarkan. Apalagi bagi orang berpuasa yang diharuskan meredam hawa nafsu.

4. Hendaklah orang yang berpuasa juga menghindari kecurangan dalam segala bentuk mu’amalah. Baik itu jual beli, sewa-menyewa, produksi, dan sebagainya. Sebab kecurangan itu termasuk dosa besar karena merupakan penipuan dan bisa memicu perpecahan dan permusuhan.

5. Hendaknya orang yang berpuasa juga menghindari kesaksian palsu. Membuat kesaksian palsu sama saja dengan berbohong dan hal itu bertentangan dengan puasa.

Yang Sifatnya Sunnah

1. Makan sahur
2. Menyegerakan berbuka
3. Menjaga llisan dari kata-kata yang tidak bermanfaat
4. Menjaga pandangan
5. Memperbanyak baca Al Qur’an, Dzikir, Sholat, dan Shadaqah.
6. Disunnahkan untuk memakai siwak tapi bukan ditengah hari
7. Mengingat semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah ta’ala kepadanya.
8. Menjaga semua anggota tubuh dari segala hal yang buruk.
9. Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk memberikan makanan dan minuman untuk orang yang berbuka puasa.

Keutamaan Puasa

1. Shaum adalah perisai dari perbuatan dosa.
2. Dengan berpuasa bisa memasukkan seorang hamba ke surga
3. Pahala orang yang berpuasa tidak terbatas
4. Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari bunga kasturi
5. Diberi syafaat di hari kiamat
6. Sebagai kafarat

Puasa dan Kesehatan

Menurut penelitian, berpuasa itu menyehatkan tubuh. Dengan berpuasa sel-sel yang rusak didalam tubuh diganti dengan sel-sel yang baru. Tidak hanya itu, puasa juga mampu meningkatkan hormon pertumbuhan hingga 2000% pada laki-laki dan 1300% pada perempuan.

Hormon pertumbuhan ini akan memfasilitasi pembakaran cadangan lemak dalam tubuh selama berpuasa. Peningkatan kembali hormon pertumbuhan ini juga bermanfaat dalam melawan penuaan dini.

Makanan sangat berkaitan erat dengan proses metabolisme karena itu pemeriksaan yang berhubungan dengan proses metabolisme pasien sering kali disyaratkan untuk berpuasa dulu. Tidak hanya pemeriksaan hal yang sama juga disarankan ketika akan menjalani proses operasi.

Itulah pengertian puasa secara syariat. Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui juga mengenai sejarah diperintahkannya berpuasa, serta manfaat menjalan puasa bagi kesehatan.

keywords: Pengertian puasa

Leave a Comment