Arti Tadabbur Menurut Beberapa Ulama dan Kaitannya dengan Al-Qur’an

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti tadabbur secara bahasa adalah “merenung”. Sedangkan menurut istilah secara umum tadabbur adalah merenung untuk mengetahui maksud dan tujuan dari suatu peristiwa maupun ungkapan secara mendalam.

Kata tadabbur dapat diartikan memiliki makna akhir dari sesuatu. Artinya kata ini menjelaskan kegiatan perenungan terhadap akhir dari suatu perkara dan kemudian memikirkan akibatnya. Tak hanya akibat, semua bagian dan segala perkara yang mengikutinya juga dijadikan sebagai bahan renungan.

Tadabbur berasal dari wazan “tafa’ala” ( تفعّل) yang artinya melakukan sesuatu dengan susah payah sehingga mendapatkan hasil setelah berusaha. Subjek yang melakukan tadabbur didefinisikan sebagai orang yang memperhatikan dan merenungkan sebuah perkara secara berulang-ulang dari berbagai sisi.


Arti Tadabbur Menurut Beberapa Ulama


mediaumat.news

Beberapa ulama menjabarkan makna dan arti tadabbur (تدبر) berdasarkan pendapat dan sudut pandang masing-masing  Arti tadabbur di bawah ini didasarkan pada kaitan tadabbur dengan Al-Qur’an:

Syaikh Ibnu Katsir

Tadabbur didefinisikan sebagai suatu upaya memahami dan memikirkan makna dari lafadz Al-Qur’an. Pemikiran ini mencakup petunjuk yang terdapat pada ayat-ayat Al-Qur’an, susunannya, dan segala bentuk isyarat serta peringatan tersirat yang ada di dalam Al-Qur’an tersebut.

Menelusuri setiap makna kesempurnaan Al-Qur’an sehingga berujung pada pengambilan manfaat oleh hati. Hati orang yang bertadabbur akan menjadi tunduk pada setiap nasihat yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Ia patuh pada perintah-perintahnya dan mengambil ibrah dari Al-Qur’an itu sendiri.

Syaikh Sholeh Fauzan

Hampir sama dengan Syaikh Ibnu Katsir, tadabbur menurut Syaikh Sholeh Fauzan adalah memikirkan makna dari ayat-ayat Al-Qur’an dengan tujuan memperoleh manfaat berupa hidayah. Tadabbur mencakup memaknai setiap rahasia serta kabar berita yang terdapat di dalam Al-Qur’an tersebut.

Selain mendapat hidayah, mentadabburi Al-Qur’an juga bertujuan untuk meningkatkan keimanan seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan meningkatnya iman maka amal ibadah juga akan meningkat sehingga kita cenderung akan meninggalkan segala perbuatan yang menjerumuskan kepada dosa.

Syaikh Abu Bakar Al-Ajiri

Syaikh Abu Bakar Al-Ajiri secara lugas menerangkan arti tadabbur sebagai bentuk dalam mengikuti dan beramal dengan ilmu Al-Quran. Tadabbur tidak hanya sekedar membaca dan menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Melainkan mempraktikkan akhlak Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Jadi percuma saja membaca dan Al-Qur’an tanpa melewatkan satu hurufpun, akan tetapi tabiat dan perangai kita masih jauh dari segala petunjuk yang diajarkan di dalam Al-Qur’an.

Ulama Kontemporer

Para ulama masa kini menyumbangkan pemikiran mengenai arti tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an. Menurut mereka tadabbur adalah proses memikirkan dan menggunakan kemampuan akal lewat pertanyaan-pertanyaan logis dalam mencapai definisi baru yang terkandung di dalam Al-Qur’an.

Proses pemikiran ini dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, dimana menjadi bahasa penghubung antar kalimat atau setiap surat yang tersusun dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an dan Tadabbur

arti tadabbur
suaramuslim.net

Tadabbur adalah cara berinteraksi yang paling baik terhadap Al-Qur’an. Cara ini yang dianjurkan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya. Dengan cara ini kita akan lebih dekat dengan yang namanya berkah, berbeda halnya jika hanya membaca Al-Qur’an secara cepat tanpa pemahaman.

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Artinya: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad SAW)“.” (QS. Al-Maidah: 83).

Al Qur’an merupakan kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab suci Al-Qur’an pertama kali diwahyukan di Gua Hira melalui perantara melaikat Jibril, dan berangsur-angsur diwahyukan selama 23 tahun.

Secara Etimologi, Al-Qur’an berasal dari kata qara’a, yaqra’u, qiraa’atan atau qur’aanan yang berarti mengumpulkan (al-jam’u) dan menghimpun (al-dlammu).

Huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian kebagian lain secara teratur disebut Al-Qur’an karena berisikan intisari dari semua Kitabullah dan intisari dari ilmu pengetahuan.

Membaca Al-Qur’an Tanpa Tadabbur

Sebagai sumber ajaran utama umat Islam, Al-Qur’an berisi petunjuk-petunjuk yang dibutuhkan umat. Segala hal tentang prinsip menjalani hidup di dunia serta bagaimana mengamalkannya terdapat di dalam Al-Qur’an.

Semua kalangan alim ulama mulai dari para sahabat Nabi hingga tabi’in memperhatikan segala aspek Al-Qur’an. Mulai dari aspek tilawah, tahfidz, pemahaman, tadabbur, hingga pengamalannya. Sebagai umat muslim yang baik harusnya kita bisa mencontohnya dengan baik.

Namun kebanyakan dari kita jarang yang betul-betul khidmat dalam mentadabburi Al-Qur’an. Di era yang super sibuk dengan kegiatan dunia, terkadang kita memperhatikan Al-Qur’an hanya sampai pada tahap tilawah saja.

Aspek-aspek lainnya tak jarang kita tinggalkan, terutama aspek utama yakni tadabbur. Menurut Abdul Karim Bakar, manusia kini banyak yang antusias untuk menjadi penghafal Al-Qur’an namun sedikit yang bisa mentadabburinya.

Padahal tujuan awal diturunkannya Al-Qur’an agar manusia mentadabburi dan mengambil pelajaran darinya, tak hanya sekedar dibaca. Tadabbur disini diartikan mengamalkan setiap makna yang tertulis pada setiap ayat-ayat Al-Qur’an serta mengambil pelajaran dari kisah-kisah orang terdahulu.

Sungguh sangat disayangkan bila seseorang mengaku hafal Al-Qur’an, akan tetapi tidak terlihat bekas Al-Qur’an sedikitpun di watak dan perangainya.

Membaca Al-Qur’an dengan Tadabbur

Al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran Islam terlengkap yang diturunkan Allah SWT kepada manusia yang telah mencakup segala aspek kehidupan. Mulai dari perkara yang kecil hingga perkara yang besar dijelaskan dalam Al-Qur’an dengan amat sempurna.

Kesempurnaan Al-Qur’an sebagai firman atau perkataan Allah sudah terjamin dan tidak seorang pun yang dapat menirunya sehingga mustahil kalau Al-Qur’an adalah buatan atau karangan manusia. Al-Rafi’i mengatakan bahwa Al-Qur’an memberi petunjuk, dan makna-makna yang tidak terbatas, dengan kalimat yang terbatas.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Al-Qur’an tidak diturunkan melainkan untuk ditadabburi. Untuk itu tadabbur menjadi salah satu adab dalam membaca Al-Qur’an. Mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an dapat dimulai dengan memahami makna-maknanya, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: “Ini (kitab Al-Qur’an) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Sad: 29).

Makna yang tersirat artinya kita perlu mencari maksud dan tujuan dibalik diturunkannya sebuah ayat. Biasanya pelengkap makna tersebut terdapat di dalam hadits maupun ijtihad para ulama.

Di dalam Al-Qur’an terdapat begitu banyak ilmu dan kebaikan yang patut kita pahami sebagai umat muslim. Terdapat petunjuk yang menjelaskan agar manusia terhindar dari kesesatan, segala bentuk penyakit, dan menuju ke jalan yang terang (jalan yang diridhai Allah SWT).

Setiap hukum yang diperlukan manusia dan dalil yang tegas tentang segala yang diinginkan sehingga menjadikannya semulia-mulia kitab yang diturunkan Allah SWT.

Maka untuk memperoleh kemuliaan dari Al-Qur’an kita perlu merenungkan setiap ayat-ayatnya. Dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang, sehingga sampai pada titik paham dan bisa menyebarkan nya kepada umat meski hanya satu ayat.

Prosedur Tadabbur

khazanahalquran.com

Dalam usaha mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an banyak prosedur yang dapat dijalankan. Dalam hal ini prosedur tadabbur tidak hanya memahami tafsir, melainkan juga mengimplementasikan makna setiap ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58).

Tadabbur tentu bukanlah yang mudah untuk dilakukan, oleh karena itu prosedur tadabbur ini terbagi ke dalam tiga tingkatan. Perbedaannya masing-masing terletak pada kemampuan setiap orang, ada yang baru memulai (awam) hingga yang sudah mencapai tingkat lanjut.

Perbedaan karakter dan latar belakang disiplin ilmu juga cukup berpengaruh pada proses mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an. Berikut kategori tingkatannya:

Kategori Mudah

Tingkatan dasar yaitu dengan cara memilih suatu ayat dengan tema tertentu sembari mendalami artinya. Informasi ini dapat ditemukan langsung pada Al-Qur’an yang sudah ada terjemahannya atau dengan mengartikan sendiri lewat setiap lafadz yang ada pada ayat tersebut.

Berikutnya dalam mengimplementasikan makna yang terkandung dalam ayat tersebut dalam polah kehidupan sehari-hari. Cakupan kategori ini hanya merenungkan sebab diturunkan dan kandungan lain yang terkait dengan ayat tersebut.

Kategori Sedang

Kategori tingkat ini biasanya dilakukan oleh orang dengan disiplin ilmu menguasai gramatikal bahasa Arab. Setelah memahami makna yang terkandung dalam suatu ayat dilanjutkan dengan memikirkan sebab diturunkannya ayat tersebut.

Mencari tahu dan merenungkan kandungan makna yang terdapat pada ayat tersebut dan mengkaitkannya dengan disiplin ilmu lainnya. Baru kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-sehari.

Kategori Sulit

Kategori terakhir ini mencangkup langkah-langkah yang ada pada prosedur kategori sedang. Yang membedakan adalah setelah mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, proses tadabbur dilanjutkan dengan mencari kesimpulan.

Kesimpulan tersebut berikutnya digunakan untuk merenungkan rahasia-rahasia Allah di balik penurunan ayat tersebut. Pada tahap ini maka seseorang diharapkan mampu melihat keberkahan dan cahaya di balik setiap ayat yang ada di dalam Al-Qur’an.


Wallahu A’lam.

Leave a Comment