Hadza Min Fadhli Rabbi | Implementasi dari Makna Kalimat Dua Syahadat

Hadza Min Fadhli Rabbi – Manusia terlahir ke dunia bagai selembar kertas putih, bersih tanpa noda. Seiring berjalannya waktu kita akan tumbuh menjadi dewasa dimana sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Pilihan ada di tangan masing-masing, akan mengukir tinta berwarna jingga di lembaran putih Anda. Atau akan memilih berbagai macam warna untuk menciptakan sebuah seni?

Satu hal yang harus dipahami adalah, setiap pilihan ada resiko dan konsekuensinya.

Agama Islam mengatur kehidupan melalui pedoman berupa Al-Qur’an dan hadits. Sumber ajaran utama tersebut harus dijadikan pegangan agar hidup kita sebagai muslim selamat dunia akhirat. Jangan sampai salah memilih langkah hingga menggoreskan noda pada lembaran putih hakikatnya suci.


Hadza Min Fadhli Rabbi


liputan6.com

Sebuah kalimat penjaga hati agar terhindar dari kesombongan dan keserakahan. Ujian di dunia yang fana ini sangatlah beragam. Ada yang diuji oleh Allah lewat hidup yang melarat namun ada pula yang diuji Allah dengan segudang prestasi dan kekayaan.

Hati-hati, jika tak bisa mengendalikan hawa nafsu dan menjaga hati, bisa saja kebahagiaan dunia tersebut yang akan menjerumuskan hati kita kepada kemunafikan. Lebih baik hidup sederhana saja namun tetap diberkahi Allah daripada bertahta namun jauh dari Yang Maha Pemurah.

Alkisah di suatu desa hidup seorang anak muda ‘si fulan’ dari keluarga yang kekurangan. Ia pandai dan cepat dalam menghafal. Dengan kepandaiannya ia berusaha sekeras tenaga untuk mengangkat perekonomian keluarganya, cita-cita nya adalah menjadi orang berprestasi, sukses, dan kaya raya.

Allah memudahkan jalannya hingga berhasil mengangkat status sosial keluarganya. Namun saat berada di puncak pujian, ia berkata kepada para kerabat dan sahabatnya “hadza min fadhli rabbi”. Sungguh terkejut orang akan mulianya akhlak si fulan yang tetap rendah hati.

Fulan tak pernah lupa tentang agama yang telah ia pelajari saat TPA dulu. Kisah Nabi Sulaiman AS yang diceritakan kakeknya waktu si Fulan kecil selalu terngiang hingga ia dewasa dan berada.

Sesungguhnya kesuksesan karir, kekayaan, keluarga, dan anak merupakan ujian bagi setiap orang. Saat berada di puncak Allah ingin menguji kita apakah tetap bersyukur atau mengingkari. Setiap kehebatan yang kita miliki semua murni karena karunia Allah semata.

Jika Allah berkehendak, semua yang kita miliki bisa menghilang dalam sekejap mata. Maka dari itu jangan pernah sombong saat berkarya, ingat selalu segala kebaikan akan kembali pada kita begitu pula dengan keburukannya.

Makna Kalimat Ini Untuk Kehidupan

Lafadz “Hadza Min Fadhli Rabbi ( هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي )” terdapat dalam penggalan surat An-Naml ayat 40. Dimana mengisahkan tentang Nabi Sulaiman AS yang berhasil memindahkan istana Ratu Bilqis dalam waktu tak sempat mata berkedip.

Semua makhluk memuji Nabi Sulaiman atas kemampuannya. Namun setelah memindahkan istana tersebut beliau hanya berucap “hadza min fadhli rabbi” dan tidak menyombongkan diri sekalipun. Artinya “ini termasuk karunia Rabb-ku”, sebuah bentuk syukur atas kehendak Allah.

قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Artinya: “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.” (QS. An-Naml: 40).

Kalimat tersebut mengandung makna yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Menghindarkan kita dari sifat arogan dan ketamakan yang tiada tara.

 


Penutup

Terkadang ada saja perasaan angkuh dari dalam diri menghantui, “ini semua kan hasil jerih payahku, berkat usaha ku juga makanya aku bisa mencapai semua ini”. Belum lagi faktor dari luar seperti pujian orang-orang yang membuat kita semakin melambung.

Namun jangan pernah lupa bahwa sebesar apapun usaha manusia, Allah jualah yang menentukan hasil. Kita tidak bisa mengontrol takdir dan keadaan, namun kita bisa mengontrol hati dan pikiran agar senantiasa berada pada koridor yang diridhai-Nya.

Dalam setiap usaha yang diniatkan karena Allah, jangan berharap hasil yang gemilang. Melainkan minta keberkahan dari setiap jalan yang kita pilih. Karena dengan Allah ridha, apapun hasil yang kita peroleh akan terasa cukup.

Jangan lupa bahwa sejatinya setiap keberhasilan yang kita peroleh haruslah dibarengi dengan kesadaran mendalam bahwa “Ada anugerah Allah yang tercurah di dalamnya”, “Hadza min fadhli Rabbi”!

Leave a Comment